Pasien AS perlu makanan sehat anti radang

Jenis makanan dan minuman Anti Radang khusus pasien AS dan makanan pantangan dapat di baca pada buku AS jilid 2 Bab 19.

Perlunya Relasi yang Harmonis dengan Pasangan atau Anggota Keluarga lainnya

Hidup damai dan minim konflik akan membuat pasien AS lebih jarang mengalami rasa nyeri. Hidup sering bertengkar dan penuh konflik membuat tubuh menghasilkan hormon kortisol (hormon stress) yang memicu timbulnya stress dan menjadi jalan untuk AS menjadi kambuh dan bertambah nyeri.

Berolahraga yang Cukup dan Benar

Berenang, Senam AS, Yoga, Pilates, Bersepeda Statis, Jalan Kaki serta olahraga Low Impact lainnya merupakan olahraga yang baik bagi Pasien AS. Diskusikan dengan dokter yang merawat Anda.

Gaya Hidup Aktif Fisik dan Mental

Masalah utama dalam AS adalah rasa nyeri dan kekakuan tubuh. Gaya Hidup aktif secara fisik dan mental akan membantu tubuh dalam memerangi AS. Menjaga postur tubuh yang baik dan tegak akan membantu pasien AS hidup dengan pikiran lebih positif dan berkualitas.

Porsi Sayur Segar dan Buah Segar lebih banyak daripada Karbohidrat

Karbohidrat diperlukan untuk energi. Tapi menurut penelitian dr. Alan Ebringer, komposisi karbohidrat tinggi dalam diet akan memicu timbulnya peradangan yang lebih aktif. Karena karbohidrat merupakan makanan utama bakteri klebsiella yang merupakan salah satu dari banyak pemicu timbulnya peradangan dalam AS.

Manajemen AS Satu Menit #1 - Membuat Tidur Anda Lebih Nyenyak dan Berkualitas


Banyak masalah yang menghinggapi penderita AS. Salah satu masalah adalah kesulitan tidur dengan nyenyak. Kurang tidur akan membuat AS menjadi lebih parah. 

Tetapi tetap ada solusi supaya kualitas tidur penderita AS bisa lebih baik. 

Melakukan gerak badan melalui salah satu dari aktivitas berikut:

Senam AS


Berenang



Naik sepeda statis

Gerakan Tai-Chi 


Pilates




Lakukan di pagi atau sore hari dengan jumlah yang cukup akan membuat Anda bisa tidur dengan lebih nyenyak. 

Hindari minum kopi, teh dan minuman lain yang merangsang pikiran Anda aktif setelah jam 5 sore. 


Selamat mencoba. 



KONSEP YAYASAN AS INDONESIA (DRAFT 2) DARI Riki Susanto, S.H.




   
Konsep ini dibuat oleh
:
Riki Susanto, S.H.
Tanggal
:
14 Januari 2015

KONSEP YAYASAN ANKYLOSING SPONDILITIS INDONESIA (YASI)

KATEGORI
PENJELASAN
Visi
Memberikan informasi yang akurat untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian akan gejala maupun akibatnya serta membangun Kualitas Hidup penderita Ankylosing Spondilitis.
Misi
Yayasan Ankylosing Spondilitis siap membantu masyarakat, penderita Angkylosing Spondilitis dan keluarga penderita Angkylosing Spondilitis untuk segala informasi mengenai penanganan dan manajemen Angkylosing Spondilitis.
Maksud & Tujuan
1.    Socialization : Penyuluhan dan sosialisasi mengenai gejala, akibat dan penanganan Ankylosing Spondilitis;
2.    Charity : Menggalang dan mengumpulkan dana bagi penanganan Ankylosing Spondilitis;
3.    Relationship : Menjalin hubungan yang baik dan bekerjasama dengan seluruh instansi swasta dan negara untuk meningkatkan kualitas hidup penderita;
4.    Supporting : Menyediakan informasi yang akurat mengenai Angkylosing Spondilitis dan saling mendukung antar penderita Angkylosing Spondilitis.
Pelaksanaan (Eksekusi)
1.    Socialization (Sosialisasi) : Mengadakan seminar gratis bagi penderita maupun keluarga penderita Angkylosing Spondilitis; Membuat website resmi mengenai Angkylosing Spondilitis;
2.    Charity (Penggalangan Dana) : Mengadakan hari penggalangan dana bagi penderita Ankylosing Spondilitis di Indonesia;
3.    Relationship (Hubungan Baik) : Menjalin hubungan kerjasama dengan Asuransi Swasta dan BPJS Pemerintah untuk mengakses pengobatan dan penanganan Ankylosing Spondilitis sedini mungkin;
4.    Supporting (Saling Mendukung) : Mendukung dan membantu sarana dilakukan pertemuan untuk saling berbagi (sharing) dan saling menguatkan dengan membuat Forum resmi mengenai Ankylosing Spondilitis.

TAHAP 1
PERTEMUAN AWAL
1.    Membahas pendirian Yayasan Ankylosing Spondilitis (Visi, Misi, Maksud dan Tujuan, Pelaksanaan, Pemilihan Kepengurusan dan Struktur Yayasan Angkylosing Spondilitis);
2.    Membahas pendanaan Yayasan Angkylosing Spondilitis; dan
3.    Merencanakan program Yayasan Angkylosing Spondilitis.

TAHAP 2
PENDIRIAN YAYASAN
1.    Menyetujui Dewan Pembina, Pengurus dan Struktur Yayasan Ankylosing Spondilitis; dan
2.    Pendirian Yayasan Angkylosing Spondilitis di Notaris;

TAHAP 3
PEMBAHASAN PROGRAM
1.    Membahas program kerja (blue print) Yayasan Ankylosing Spondilitis;
2.    Menentukan arah kerjasama dengan instansi swasta dan pemerintah;
3.    Membagi job description sesuai struktur Yayasan Ankylosing Spondilitis;
4.    Pembuatan dan penyediaan informasi publik mengenai Ankylosing Spondilitis;
5.    Membentuk kepala regional dengan tujuan sosialisasi dan perkenalan regional sesama penderita Ankylosing Spondilitis; dan
6.    Memperkenalkan Yayasan Ankylosing Spondilitis dan menjalin kerjasama kepada dokter, rumah sakit, klinik, pengobatan alternatif (chiropractic, fisioterapi, dll), distributor obat dan kementerian kesehatan (dinas kesehatan).

Dari beberapa konsep yang telah diuraikan di atas, berikut adalah penjelasan mengenai tahap-tahap awal yang diperlukan.






Demikian beberapa konsep yang coba saya uraikan sebagai masukan, berharap kita bisa berkontribusi lebih banyak untuk sesama penderita Ankylosing Spondilitis.

Tetap Tegak Walaupun Tulang Sudah Nyambung!!!

Best Regards,
Riki Susanto, S.H.


KONSEP YAYASAN AS INDONESIA



KONSEP YAYASAN ANKYLOSING  SPONDYLITIS INDONESIA (YASI) - DRAFT
Visi:
Rakyat Indonesia berdiri tegak, berpengetahuan, mampu mencegah Ankylosing Spondylitis dan jika terkena, mampu memanajemeni Ankylosing Spondylitis secara holistik sehingga tetap produktif, kreatif,  dan bahagia seperti layaknya orang sehat.
Misi:
1.       Mempopulerkan pengetahuan tentang penyakit AS di Indonesia melalui media-massa (online dan off-line)  dan mendidik masyarakat sehingga bisa menyadari ciri, gejala dan bahaya penyakit AS lebih dini.
2.      Mencegah supaya tidak terkena AS. Tetapi jika sudah terdeteksi terkena, bisa mengambil tindakan lebih cepat sehingga bisa mencegah AS menjadi lebih buruk atau membahayakan jiwa.
3.      Setiap pasien AS mampu memanajemeni diri secara holistik dengan efektif sehingga meningkatkan kualitas hidup dan menjadi berkat bagi orang lain.
Tujuan:
1.       Mengadakan seminar pendidikan AS rutin dan terorganisasi dari para dokter ahli AS di Indonesia;
2.      Sebagai kelompok pendukung (support group) sehingga saling menguatkan, membagi pengalaman dan memotivasi di antara sesama anggota.
3.      Menjadi sarana untuk menolong teman-teman lain yang membutuhkan konsultasi atau dana dengan cara yang terorganisasi, resmi, dan dapat dipertanggungjawabkan;
4.      Memberikan kesempatan kepada para anggota di komunitas AS Indonesia untuk mendapatkan keringanan beban keuangan dengan mengusahakan supaya pemakaian bio-agent dapat ditanggung bersama melalui program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang diselenggarakan pemerintah Republik Indonesia;
5.      Memfasilitasi dalam menerima bantuan dari donatur korporasi melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) dengan penuh tanggungjawab (responsibility) dan akuntabilitas (accountability).
Shared values/Nilai-nilai Yayasan AS:
1.       Jujur / Integritas sehingga bisa dipercaya orang lain atau mendapat kepercayaan dari orang yang tidak terkena AS.
2.      Cakap / Kompetensi sehingga tetap mampu bersaing dalam dunia kerja dan dipercaya rekan bisnis .
3.      Semangat / (passion) sehingga melihat hidup dari paradigma helicopter (padangan luas, jauh dan dalam). Memberi semangat kepada diri sendiri dan kemudian kepada orang lain.
4.      Suka menolong / (helpful) sehingga pasien AS lain dan masyarakat secara umum diberikan manfaat yang optimal,
5.      Produktif dan Kreatif sehingga selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam hidup dan jika mengalami kegagalan tidak kecewa atau menyesali kehidupan yang sudah dijalani, tapi selalu bersyukur.
Struktur:
Mengikuti peraturan UU Yayasan yang berlaku di Indonesia (to be discussed).
Strategi:
1.       Public Relation: website AS yang lengkap dan berpengetahuan. Kerjasama dengan mass-media nasional dan internasional.
2.      Marketing: charity event, etc (to be discussed).
3.      Fundraising: mencari donator abadi (to be discussed).
Sistem:
Sistem Akuntansi dan Pengendalian (Accounting System and Control) berdasarkan Prinsip Akuntansi Indonesia.
Skill:
Seminar, Training dan Pengembangan bagi pengurus, anggota dan keluarga pasien / peminat:
1.       Seminar AS (pengetahuan dan manajemen) secara rutin setiap 6 bulan sekali oleh dokter spesialis.
2.      Pelatihan Manajemen AS mandiri (oleh dokter ahli dibidangnya (ahli fisioterapi, ahli gizi, ahli penyakit dalam, pain specialist, psikolog, dst) dan sharing pengalaman oleh para anggota yang sudah remisi): setiap pasien AS mampu memanajemeni diri sendiri dalam bidang yang mempengaruhi remisi AS yaitu bidang: fisik (postur, istirahat), olahraga (exercise), manajemen emosi, pola berpikir /mental, pola konsumsi/makanan, manajemen obat-obatan, manajemen nyeri (pain management) dan manajemen relasi (to be discussed).
3.      Pelatihan: membagikan nilai-nilai YASI kepada seluruh anggota dan peningkatan skill dan kompetensi para pengurus sesuai kebutuhan (to be discussed).
4.      Pengembangan dan pemberdayaan: setiap anggota menemukan visi, misi hidup pribadi dan mampu bersaing di dunia kerja dan survive dalam kehidupan sehari-hari (to be discussed).
Staf:
Human capital profesional: Perekrutan Pengurus sesuai minat, bakat, skill dan panggilan serta sesuai dengan nilai-nilai Yayasan AS.


UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN - Bagian #2


BAB VI
ORGAN YAYASAN

Bagian Pertama
Pembina

Pasal 28
(1)        Pembina adalah organ Yayasan yang mempunyai kewenangan yang tidak diserahkan kepada Pengurus atau Pengawas oleh Undang-undang ini atau Anggaran Dasar.
(2)        Kewenangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi:
a.         keputusan mengenai perubahan Anggaran Dasar;
b.         pengangkatan dan pemberhentian anggota Pengurus dan anggota Pengawas;
c.         penetapan kebijakan umum Yayasan berdasarkan Anggaran Dasar Yayasan;
d.         pengesahan program kerja dan rancangan anggaran tahunan Yayasan; dan
e.         penetapan keputusan mengenai penggabungan atau pembubaran Yayasan.
(3)        Yang dapat diangkat menjadi anggota Pembina sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah orang perseorangan sebagai pendiri Yayasan dan/atau mereka yang berdasarkan keputusan rapat anggota Pembina dinilai mempunyai dedikasi yang tinggi untuk mencapai maksud dan tujuan Yayasan.
(4)        Dalam hal Yayasan karena sebab apapun tidak lagi mempunyai Pembina, paling lambat dalam waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal kekosongan, anggota Pengurus dan anggota Pengawas wajib mengadakan rapat gabungan untuk mengangkat Pembina dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3).
(5)        Keputusan rapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4) sah apabila dilakukan sesuai dengan ketentuan mengenai korum kehadiran dan korum keputusan untuk perubahan Anggaran Dasar sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang ini dan/atau Anggaran Dasar.

Pasal 29
Anggota Pembina tidak boleh merangkap sebagai anggota Pengurus dan/atau anggota Pengawas.

Pasal 30
(1)        Pembina mengadakan rapat sekurang-kurangnya sekali dalam 1 (satu) tahun.
(2)        Dalam rapat tahunan, Pembina melakukan evaluasi tentang kekayaan, hak dan kewajiban Yayasan tahun yang lampau sebagai dasar pertimbangan bagi perkiraan mengenai perkembangan Yayasan untuk tahun yang akan datang.

Bagian Kedua
Pengurus

Pasal 31
(1)        Pengurus adalah organ Yayasan yang melaksanakan kepengurusan Yayasan.
(2)        Yang dapat diangkat menjadi Pengurus adalah orang perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum.
(3)        Pengurus tidak boleh merangkap sebagai Pembina atau Pengawas.

Pasal 32
(1)        Pengurus Yayasan diangkat oleh Pembina berdasarkan keputusan rapat Pembina untuk jangka waktu selama 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.
(2)        Susunan Pengurus sekurang-kurangnya terdiri atas :
a.         seorang ketua;
b.         seorang sekretaris; dan
c.         seorang bendahara.
(3)        Dalam hal Pengurus sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) selama menjalankan tugas melakukan tindakan yang oleh Pembina dinilai merugikan Yayasan, maka berdasarkan keputusan rapat Pembina, Pengurus tersebut dapat diberhentikan sebelum masa kepengurusannya berakhir.
(4)        Ketentuan mengenai susunan dan tata cara pengangkatan, pemberhentian, dan penggantian Pengurus diatur dalam Anggaran Dasar.

Pasal 33
(1)        Dalam hal terdapat penggantian Pengurus Yayasan, Pembina wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Menteri dan kepada instansi terkait.
(2)        Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib disampaikan paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal dilakukan penggantian Pengurus Yayasan.

Pasal 34
Dalam hal pengangkatan, pemberhentian dan penggantian Pengurus dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar, atas permohonan yang berkepentingan atau atas permintaan Kejaksaan dalam hal mewakili kepentingan umum, Pengadilan dapat membatalkan pengangkatan, pemberhentian, atau penggantian tersebut paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal permohonan pembatalan diajukan.

Pasal 35
(1)        Pengurus Yayasan bertanggung jawab penuh atas kepengurusan Yayasan untuk kepentingan dan tujuan Yayasan serta berhak mewakili Yayasan baik di dalam maupun di luar Pengadilan.
(2)        Setiap Pengurus menjalankan tugas dengan itikad baik, dan penuh tanggung jawab untuk kepentingan dan tujuan Yayasan.
(3)        Dalam menjalankan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), Pengurus dapat mengangkat dan memberhentikan pelaksana kegiatan Yayasan.
(4)        Ketentuan mengenai syarat dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian pelaksana kegiatan Yayasan diatur dalam Anggaran Dasar Yayasan.
(5)        Setiap Pengurus bertanggung jawab penuh secara pribadi apabila yang bersangkutan dalam menjalankan tugasnya tidak sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar, yang mengakibatkan kerugian Yayasan atau pihak ketiga.

Pasal 36
(1)        Anggota Pengurus tidak berwenang mewakili Yayasan apabila:
a.         terjadi perkara di depan pengadilan antara Yayasan dengan anggota Pengurus yang bersangkutan; atau
b.         anggota Pengurus yang bersangkutan mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan Yayasan.
(2)        Dalam hal terdapat keadaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), yang berhak mewakili Yayasan ditetapkan dalam Anggaran Dasar.

Pasal 37
(1)        Pengurus tidak berwenang:
a.         mengikat Yayasan sebagai penjamin utang;
b.         mengalihkan kekayaan Yayasan kecuali dengan persetujuan Pembina; dan
c.         membebani kekayaan Yayasan untuk kepentingan pihak lain.
(2)        Anggaran Dasar dapat membatasi kewenangan Pengurus dalam melakukan perbuatan hukum untuk dan atas nama Yayasan.

Pasal 38
(1)        Pengurus dilarang mengadakan perjanjian dengan organisasi yang terafiliasi dengan Yayasan, Pembina, Pengurus, dan/atau Pengawas Yayasan, atau seseorang yang bekerja pada Yayasan.
(2)        Larangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku dalam hal perjanjian tersebut bermanfaat bagi tercapainya maksud dan tujuan Yayasan.

Pasal 39
(1)        Dalam hal kepailitan terjadi karena kesalahan atau kelalaian Pengurus dan kekayaan Yayasan tidak cukup untuk menutup kerugian akibat kepailitan tersebut, maka setiap Anggota Pengurus secara tanggung renteng bertanggung jawab atas kerugian tersebut.
(2)        Anggota Pengurus yang dapat membuktikan bahwa kepailitan bukan karena kesalahan atau kelalaiannya tidak bertanggung jawab secara tanggung renteng atas kerugian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
(3)        Anggota Pengurus yang dinyatakan bersalah dalam melakukan pengurusan Yayasan yang menyebabkan kerugian bagi Yayasan, masyarakat, atau Negara berdasarkan putusan pengadilan, maka dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal putusan tersebut memperoleh kekuatan hukum yang tetap, tidak dapat diangkat menjadi Pengurus Yayasan manapun.

Bagian Ketiga
Pengawas

Pasal 40
(1)        Pengawas adalah organ Yayasan yang bertugas melakukan pengawasan serta memberi nasihat kepada Pengurus dalam menjalankan kegiatan Yayasan.
(2)        Yayasan memiliki Pengawas sekurang-kurangnya 1 (satu) orang Pengawas yang wewenang, tugas, dan tanggung jawabnya diatur dalam Anggaran Dasar.
(3)        Yang dapat diangkat menjadi Pengawas adalah orang perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum.
(4)        Pengawas tidak boleh merangkap sebagai Pembina atau Pengurus.

Pasal 41
(1)        Pengawas Yayasan diangkat dan sewaktu-waktu dapat diberhentikan berdasarkan keputusan rapat Pembina.
(2)        Dalam hal pengangkatan, pemberhentian, dan penggantian Pengawas dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar, atas permohonan yang berkepentingan umum, Pengadilan dapat membatalkan pengangkatan, pemberhentian atau penggantian tersebut.

Pasal 42
Pengawas wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk kepentingan Yayasan.

Pasal 43
(1)        Pengawas dapat memberhentikan sementara anggota Pengurus dengan menyebutkan alasannya.
(2)        Pemberhentian sementara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal pemberhentian sementara, wajib dilaporkan secara tertulis kepada Pembina.
(3)        Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal laporan diterima, Pembina wajib memanggil anggota Pengurus yang bersangkutan untuk diberi kesempatan membela diri.
(4)        Dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal pembelaan diri sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), Pembina wajib:
a.         mencabut keputusan pemberhentian sementara; atau
b.         memberhentikan anggota Pengurus yang bersangkutan.
(5)        Apabila Pembina tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4), pemberhentian sementara tersebut batal demi hukum.

Pasal 44
(1)        Pengawas Yayasan diangkat oleh Pembina berdasarkan keputusan rapat Pembina untuk jangka waktu selama 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.
(2)        Ketentuan mengenai susunan, tata cara pengangkatan, pemberhentian, dan penggantian Pengawas diatur dalam Anggaran Dasar.

Pasal 45
(1)        Dalam hal terdapat penggantian Pengawas Yayasan, Pembina wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Menteri dan kepada instansi terkait.
(2)        Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib disampaikan paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal dilakukan penggantian Pengawas Yayasan.

Pasal 46
Dalam hal pengangkatan, pemberhentian, dan penggantian Pengawas dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar, atas permohonan yang berkepentingan atau atas permintaan Kejaksaan dalam hal mewakili kepentingan umum, Pengadilan dapat membatalkan pengangkatan, pemberhentian, dan penggantian Pengawas tersebut.

Pasal 47
(1)        Dalam hal kepailitan terjadi karena kesalahan atau kelalaian Pengawas dalam melakukan tugas pengawasan dan kekayaan Yayasan tidak cukup untuk menutup kerugian akibat kepailitan tersebut, setiap anggota Pengawas secara tanggung renteng bertanggung jawab atas kerugian tersebut.
(2)        Anggota Pengawas Yayasan yang dapat membuktikan bahwa kepailitan bukan karena kesalahan atau kelalaiannya, tidak bertanggung jawab secara tanggung renteng atas kerugian tersebut.
(3)        Setiap anggota Pengawas yang dinyatakan bersalah dalam melakukan pengawasan Yayasan yang menyebabkan kerugian bagi Yayasan, masyarakat, dan/atau Negara berdasarkan putusan Pengadilan dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun sejak putusan tersebut memperoleh kekuatan hukum tetap, tidak dapat diangkat menjadi Pengawas Yayasan manapun.

BAB VII
LAPORAN TAHUNAN

Pasal 48
(1)        Pengurus wajib membuat dan menyimpan catatan atau tulisan yang berisi keterangan mengenai hak dan kewajiban serta hal lain yang berkaitan dengan kegiatan usaha Yayasan.
(2)        Selain kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pengurus wajib membuat dan menyimpan dokumen keuangan Yayasan berupa bukti pembukuan dan data pendukung administrasi keuangan.

Pasal 49
(1)        Dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) bulan terhitung sejak tanggal tahun buku Yayasan ditutup, Pengurus wajib menyusun laporan tahunan secara tertulis yang memuat sekurang-kurangnya:
a.         laporan keadaan dan kegiatan Yayasan selama tahun buku yang lalu serta hasil yang telah dicapai;
b.         laporan keuangan yang terdiri atas laporan posisi keuangan pada akhir periode, laporan aktivitas, laporan arus kas, dan catatan laporan keuangan.
(2)        Dalam hal Yayasan mengadakan transaksi dengan pihak lain yang menimbulkan hak dan kewajiban bagi Yayasan, transaksi tersebut wajib dicantumkan dalam laporan tahunan.

Pasal 50
(1)        Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ditandatangani oleh Pengurus dan Pengawas sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar.
(2)        Dalam hal terdapat anggota Pengurus atau Pengawas tidak menandatangani laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka yang bersangkutan harus menyebutkan alasannya secara tertulis.
(3)        Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disahkan oleh rapat Pembina.

Pasal 51
Dalam hal dokumen laporan tahunan ternyata tidak benar dan menyesatkan, maka Pengurus dan Pengawas secara tanggung renteng bertanggung jawab terhadap pihak yang dirugikan.

Pasal 52
(1)        Ikhtisar laporan tahunan Yayasan diumumkan pada papan pengumuman di kantor Yayasan.
(2)        Ikhtisar laporan tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib diumumkan dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia bagi Yayasan yang:
a.         memperoleh bantuan Negara, bantuan luar negeri, atau pihak lain sebesar Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) atau lebih; atau
b.         mempunyai kekayaan di luar harta wakaf sebesar Rp 20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah) atau lebih.
(3)        Yayasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) wajib diaudit oleh Akuntan Publik.
(4)        Hasil audit terhadap laporan tahunan Yayasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) disampaikan kepada Pembina Yayasan yang bersangkutan dan tembusannya kepada Menteri dan instansi terkait.
(5)        Bentuk ikhtisar laporan tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku.

BAB VIII
PEMERIKSAAN TERHADAP YAYASAN

Pasal 53
(1)        Pemeriksaan terhadap Yayasan untuk mendapatkan data atau keterangan dapat dilakukan dalam hal terdapat dugaan bahwa organ Yayasan:
a.         melakukan perbuatan melawan hukum atau bertentangan dengan Anggaran Dasar;
b.         lalai dalam melaksanakan tugasnya;
c.         melakukan perbuatan yang merugikan Yayasan atau pihak ketiga; atau
d.         melakukan perbuatan yang merugikan Negara.
(2)        Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, huruf b, dan huruf c hanya dapat dilakukan berdasarkan penetapan Pengadilan atas permohonan tertulis pihak ketiga yang berkepentingan disertai alasan.
(3)        Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf d dapat dilakukan berdasarkan penetapan Pengadilan atas permintaan Kejaksaan dalam hal mewakili kepentingan umum.

Pasal 54
(1)        Pengadilan dapat menolak atau mengabulkan permohonan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2).
(2)        Dalam hal Pengadilan mengabulkan permohonan pemeriksaan terhadap Yayasan, Pengadilan mengeluarkan penetapan bagi pemeriksaan dan mengangkat paling banyak 3 (tiga) orang ahli sebagai pemeriksa untuk melakukan pemeriksaan.
(3)        Pembina, Pengurus, dan Pengawas serta pelaksana kegiatan atau karyawan Yayasan tidak dapat diangkat menjadi pemeriksa sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).

Pasal 55
(1)        Pemeriksa berwenang memeriksa semua dokumen dan kekayaan Yayasan untuk kepentingan pemeriksaan.
(2)        Pembina, Pengurus, Pengawas, dan pelaksana kegiatan serta karyawan Yayasan, wajib memberikan keterangan yang diperlukan untuk pelaksanaan pemeriksaan.
(3)        Pemeriksa dilarang mengumumkan atau memberitahukan hasil pemeriksaannya kepada pihak lain.

Pasal 56
(1)        Pemeriksa wajib menyampaikan laporan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan kepada Ketua Pengadilan di tempat kedudukan Yayasan paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pemeriksaan selesai dilakukan.
(2)        Ketua Pengadilan memberikan salinan laporan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) kepada pemohon atau Kejaksaan dan Yayasan yang bersangkutan.

BAB IX
PENGGABUNGAN

Pasal 57
(1)        Perbuatan hukum penggabungan Yayasan dapat dilakukan dengan menggabungkan 1 (satu) atau lebih Yayasan dengan Yayasan lain, dan mengakibatkan Yayasan yang menggabungkan diri menjadi bubar.
(2)        Penggabungan Yayasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan dengan memperhatikan:
a.         ketidakmampuan Yayasan melaksanakan kegiatan usaha tanpa dukungan Yayasan lain;
b.         Yayasan yang menerima penggabungan dan yang bergabung kegiatannya sejenis; atau
c.         Yayasan yang menggabungkan diri tidak pernah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Anggaran Dasarnya, ketertiban umum, dan kesusilaan.
(3)        Usul penggabungan Yayasan dapat disampaikan oleh Pengurus kepada Pembina.
(4)        Penggabungan Yayasan hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan rapat Pembina yang dihadiri oleh paling sedikit 3/4 (tiga per empat) dari jumlah anggota Pembina dan disetujui paling sedikit oleh 3/4 (tiga per empat) dari jumlah anggota Pembina yang hadir.

Pasal 58
(1)        Pengurus dari masing-masing Yayasan yang akan menggabungkan diri dan yang akan menerima penggabungan menyusun usul rencana penggabungan.
(2)        Usul rencana penggabungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dituangkan dalam rancangan akta penggabungan oleh Pengurus dari Yayasan yang akan menggabungkan diri dan yang akan menerima penggabungan.

Pasal 59
Pengurus Yayasan hasil penggabungan wajib mengumumkan hasil penggabungan dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal penggabungan selesai dilakukan.

Pasal 60
(1)        Rancangan akta penggabungan Yayasan dan akta perubahan Anggaran Dasar Yayasan yang menerima penggabungan wajib disampaikan kepada Menteri untuk memperoleh persetujuan.
(2)        Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan dalam waktu paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal permohonan diterima.
(3)        Dalam hal permohonan ditolak, maka penolakan tersebut harus diberitahukan kepada pemohon secara tertulis disertai alasannya dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).

Pasal 61
Ketentuan mengenai tata cara penggabungan Yayasan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

BAB X
PEMBUBARAN

Pasal 62
Yayasan bubar karena:
a.         jangka waktu yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar berakhir;
b.         tujuan Yayasan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar telah tercapai atau tidak tercapai;
c.         putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap berdasarkan alasan:
1)         Yayasan melanggar ketertiban umum dan kesusilaan;
2)         tidak mampu membayar utangnya setelah dinyatakan pailit; atau
3)         harta kekayaan Yayasan tidak cukup untuk melunasi utangnya setelah pernyataan pailit dicabut.

Pasal 63
(1)        Dalam hal Yayasan bubar karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 huruf a dan huruf b, Pembina menunjuk likuidator untuk membereskan kekayaan Yayasan.
(2)        Dalam hal tidak ditunjuk likuidator, Pengurus bertindak selaku likuidator.
(3)        Dalam hal Yayasan bubar, Yayasan tidak dapat melakukan perbuatan hukum, kecuali untuk membereskan kekayaannya dalam proses likuidasi.
(4)        Dalam hal Yayasan sedang dalam proses likuidasi, untuk semua surat keluar, dicantumkan frase "dalam likuidasi" di belakang nama Yayasan.

Pasal 64
(1)        Dalam hal Yayasan bubar karena putusan Pengadilan, maka Pengadilan juga menunjuk likuidator.
(2)        Dalam hal pembubaran Yayasan karena pailit, berlaku peraturan perundang-undangan di bidang Kepailitan.
(3)        Ketentuan mengenai penunjukan, pengangkatan, pemberhentian sementara, pemberhentian, wewenang, kewajiban, tugas dan tanggung jawab, serta pengawasan terhadap Pengurus, berlaku juga bagi likuidator.

Pasal 65
Likuidator atau kurator yang ditunjuk untuk melakukan pemberesan kekayaan Yayasan yang bubar atau dibubarkan, paling lambat 5 (lima) hari terhitung sejak tanggal penunjukan wajib mengumumkan pembubaran Yayasan dan proses likuidasinya dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia.

Pasal 66
Likuidator atau kurator dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal proses likuidasi berakhir, wajib mengumumkan hasil likuidasi dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia.

Pasal 67
(1)        Likuidator atau kurator dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal proses likuidasi berakhir wajib melaporkan pembubaran Yayasan kepada Pembina.
(2)        Dalam hal laporan mengenai pembubaran Yayasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan pengumuman hasil likuidasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 tidak dilakukan, bubarnya Yayasan tidak berlaku bagi pihak ketiga.

Pasal 68
(1)        Kekayaan sisa hasil likuidasi diserahkan kepada Yayasan lain yang mempunyai maksud dan tujuan yang sama dengan Yayasan yang bubar.
(2)        Dalam hal sisa hasil likuidasi tidak diserahkan kepada Yayasan lain yang mempunyai maksud dan tujuan yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), sisa kekayaan tersebut diserahkan kepada Negara dan penggunaannya dilakukan sesuai dengan maksud dan tujuan Yayasan tersebut.

BAB XI
YAYASAN ASING

Pasal 69
(1)        Yayasan asing yang tidak berbadan hukum Indonesia dapat melakukan kegiatannya di wilayah Negara Republik Indonesia, jika kegiatan Yayasan tersebut tidak merugikan masyarakat, bangsa, dan Negara Indonesia.
(2)        Ketentuan mengenai syarat dan tata cara Yayasan asing sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

BAB XII
KETENTUAN PIDANA

Pasal 70
(1)        Setiap anggota organ Yayasan yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun.
(2)        Selain pidana penjara, anggota organ yayasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) juga dikenakan pidana tambahan berupa kewajiban mengembalikan uang, barang, atau kekayaan yayasan yang dialihkan atau dibagikan.

BAB XIII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 71
(1)        Pada saat Undang-undang ini mulai berlaku, Yayasan yang telah:
a.         didaftarkan di Pengadilan Negeri dan diumumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia; atau
b.         didaftarkan di Pengadilan Negeri dan mempunyai izin melakukan kegiatan dari instansi terkait; tetap diakui sebagai badan hukum, dengan ketentuan dalam waktu paling lambat 5 (lima) tahun sejak mulai berlakunya Undang-undang ini Yayasan tersebut wajib menyesuaikan Anggaran Dasarnya dengan ketentuan Undang-undang ini.
(2)        Yayasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib diberitahukan kepada Menteri paling lambat 1 (satu) tahun setelah pelaksanaan penyesuaian.
(3)        Yayasan yang tidak menyesuaikan Anggaran Dasarnya dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dibubarkan berdasarkan putusan Pengadilan atas permohonan Kejaksaan atau pihak yang berkepentingan.

BAB XIV
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 72
(1)        Yayasan yang sebagian kekayaannya berasal dari bantuan Negara, bantuan luar negeri, dan/atau sumbangan masyarakat yang diperolehnya sebagai akibat berlakunya suatu peraturan perundang-undangan wajib mengumumkan ikhtisar laporan tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) yang mencakup kekayaannya selama 10 (sepuluh) tahun sebelum Undang-undang ini diundangkan.
(2)        Pengumuman ikhtisar laporan tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak menghapus hak dari pihak yang berwajib untuk melakukan pemeriksaan, penyidikan dan penuntutan apabila ada dugaan terjadi pelanggaran hukum.

Pasal 73
Undang-undang ini mulai berlaku 1 (satu) tahun terhitung sejak tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.


Disahkan Di Jakarta,
Pada Tanggal 6 Agustus 2001
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.
MEGAWATI SOEKARNOPUTRI

Diundangkan Di Jakarta,
Pada Tanggal 6 Agustus 2001
SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.
MUHAMMAD MAFTUH BASYUNI


LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2001 NOMOR 112

STAND TALL Jilid -1

STAND TALL Jilid -1
Buku AS Bahasa Indonesia pertama di dunia. Untuk pemesanan buku POD-Print On Demand, silahkan hubungi penulis melalui menu header di sisi kanan atas situs ini.

PESAN BUKU STAND TALL ! JILID 1 DAN 2 DI TOKOPEDIA

STAND TALL Jilid- 2

STAND TALL Jilid- 2
Buku AS Bahasa Indonesia pertama di dunia. Untuk pemesanan buku POD-Print On Demand, silahkan hubungi penulis melalui menu header di sisi kanan atas situs ini.

BELI BUKU STAND TALL ! 1 SET DI BUKALAPAK.COM