Kesaksian Denny Hermawan




Saya dilahirkan sebagai anak tunggal. Bermain basket dan sepak bola sudah menjadi hobby saya sejak SD. Tahun 2005, saat duduk di bangku SMP, saya sudah menempati posisi pemain inti di tim basket sekolah dan tim basket klub lokal di kota tempat tinggal saya (Surabaya), sehingga saya semakin bersemangat dalam menekuni hobby basket ini.
Setiap hari seusai jam sekolah saya sering mengalami beberapa cedera. Setelah dua tahun rutin berlatih basket, pada suatu hari (tahun 2006) timbul nyeri pada lutut dan tendon achilles. Saya masih memaksakan diri untuk bermain basket karena saya sangat mencintai olahraga ini dan memiliki impian saya untuk menjadi atlet basket profesional. Nyeri pada lutut dan kaki itu saya tahan demi bermain basket. Tapi saya menyimpan hal ini untuk diri saya sendiri.
Dengan berlangsungnya waktu, nyeri yang awalnya hanya terasa pada saat saya selesai berlatih basket, mulai mengganggu aktifitas saya sehari-hari. Saya mulai merasa kesulitan untuk melangkah terutama saat menaiki anak tangga di gedung sekolah. Aktifitas bermain basket yang rutin saya lakukan sepulang sekolah, terpaksa saya hentikan untuk sementara tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kaki saya. Saya berharap dengan istirahat sejenak dari aktifitas sehari-hari dapat mengembalikan kondisi tubuh saya kembali normal.
Setelah tiga bulan nyeri tersebut timbul di kaki saya, kondisi tubuh saya semakin memburuk. Saya mulai sering absen di sekolah. Saya harus berhadapan dengan rasa sakit setiap harinya dan terpaksa berhenti bermain basket secara total. Untuk berjalan saja, rasanya sulit sekali. Impian saya untuk menjadi atlet basket professional dengan sangat terpaksa saya kubur dalam-dalam. Hati saya hancur.
Lama-kelamaan postur badan saya yang semula tegak mulai menjadi bungkuk dan kaku. Setiap hari, saya memulai kegiatan dengan rasa nyeri yang luar biasa. Untuk berjalan dari kasur ke toilet saja, saya tidak bisa. Sehingga terpaksa berhenti sekolah hampir selama 1 bulan. Saya tidak mengerti apa yang terjadi dengan tubuh saya. Kedua orang tua saya pun bingung dan sempat stres melihat kondisi saya pada saat itu.
Beruntung saya dilahirkan di keluarga yang cukup keras dan disiplin. Kedua orang tua selalu menekankan agar saya selalu disiplin dalam segala hal khususnya bidang pendidikan. Seberat apapun rasa nyeri yang saya hadapi di pagi hari, setiap hari orang tua tetap mendorong saya untuk pergi ke sekolah. Ya, saya pergi ke sekolah dengan postur tubuh yang bungkuk dan cara berjalan yang aneh. Sampai di sekolah pun, saya hanya bisa duduk di kelas, karena sulit bagi saya untuk berjalan dengan rasa nyeri yang luar biasa pada kedua kaki saya.
Tidak hanya menderita secara fisik, saya pun harus rela diejek dan dicemooh oleh orang-orang di sekitar saya pada saat itu. Bayangkan saja, sebagai anak SMP yang seharusnya aktif dan lincah, saya justru kesulitan berjalan dan bungkuk. Akibatnya saya menjadi bahan hinaan. Ejekan dan tertawaan teman-teman di sekolah sudah menjadi makanan keseharian saya.
Sebagai anak yang mulai memasuki usia remaja, saya mulai tertarik pada lawan jenis. Beberapa kali saya mencoba untuk mendekati teman wanita di kelas, tapi gagal. Dengan kondisi fisik saat itu, sangat sulit untuk memiliki sahabat, apalagi teman wanita. Bahkan ada beberapa teman wanita yang sempat melontarkan ejekan akan postur tubuh saya saat itu. Bertambah hancur hati ini rasanya.
Ujian mental yang harus dihadapi masih berlanjut. Bukan hanya di lingkungan sekolah; tetapi juga menerima berbagai ejekan dari keluarga besar. Dilahirkan sebagai anak tunggal, saya memiliki beban yang cukup berat, karena kelak saya akan bertanggung jawab penuh terhadap kedua orang tua saya. Hampir seluruh keluarga besar saat itu menganggap saya hanyalah anak tunggal yang merepotkan dan membebani kedua orang tua. Sebagai anak, saya merasa sangat bersalah. Bukannya menjadi anak yang berguna bagi orang tua, saya justru menjadi beban dengan penyakit saya. Dan lebih menyedihkan, saat itu saya dan keluarga tidak mengetahui apa nama penyakit yang begitu kejam menyiksa diri saya ini, sehingga membuat tubuh menjadi bungkuk dan sulit berjalan.
“My world was turned upside down”.  Hidup saya berubah total pada saat itu. Turun derajat dengen kecepatan tinggi. Dari pemain inti tim basket sekolah yang memiliki impian menjadi atlet basket profesional, menjadi anak cacat dan bungkuk yang harus menghadapi nyeri luar biasa serta ejekan setiap hari. Setiap hari saya hanya bisa merenung sendiri di kamar. ”What happen with me?” “What happen with my life?” Mengapa saya? Saya saat itu masih belum mengerti  apa penyebab rasa nyeri yang luar biasa ini. Ada yang bilang terkilir. Ada yang bilang asam urat. Saat itu saya menganggap diri saya terkena kutukan.
Hampir setiap minggu saya pergi ke dokter spesialis yang berbeda-beda. Mereka hanya memberi saya painkiller serta beberapa jenis vitamin yang dapat meredakan nyeri untuk beberapa hari saja. Berbagai jenis terapi dan pengobatan alternatif pun juga sempat saya jalani. Namun tiada hasil. Setiap pagi saya harus memulai hari dengan rasa nyeri yang luar biasa.
Saya mungkin jatuh sampai ke titik terendah pada saat itu. Hingga suatu hari saya akhirnya bangkit dan bertekad “Saya tidak boleh kalah oleh penyakit ini! Saya tidak boleh membiarkan penyakit ini menghancurkan hidup saya!”
Saya sangat bersyukur dilahirkan dalam keluarga yang keras dan disiplin. Setiap hari saya terbiasa untuk memaksakan diri menghadapi rasa sakit dan menjalani aktifitas sehari-hari layaknya manusia normal. Hampir setiap hari saya mengkonsumsi painkiller, tanpa mengetahui apapun tentang penyakit yang diderita. Satu hal yang saya tahu: painkiller ini dapat menghilangkan nyeri yang mengganggu saya beraktifitas. Jika tidak diminum sehari saja, saya seperti orang lumpuh. Tidak bisa bergerak.
Karena dokter yang menangani kurang pengetahuan, mereka tidak bisa mendiagnosis nama penyakit saya. Saya dan keluarga kebingungan. Dengan berat hati, saya harus mengkonsumsi painkiller setiap hari tanpa mengetahui nama penyakit yang diderita. Rasanya menghadapi tembok. Tapi waktu itu, tidak terpikir untuk mencari tahu apa nama penyakit yang sebenarnya ada pada tubuh saya. Saya hanya berusaha menjalani hidup saya selayaknya manusia normal. Menjadi sukses dan membahagiakan kedua orang tua saya serta berguna bagi orang di sekitar saya.
Setelah lulus dari bangku SMP pada tahun 2007, saya mulai mencoba berolahraga kebugaran/fitness di pusat pengolahan tubuh (gym). Kedua orangtua mendorong dan mendukung secara penuh. Mereka berharap, dengan rutin berolahraga di gym dapat membantu untuk mengembalikan postur tubuh saya menjadi normal kembali.
Ternyata sewaktu berolahraga di gym, tidak seperti yang saya bayangkan. Saya kesulitan menggunakan alat-alat di gym, karena postur tubuh yang gendut dan bungkuk. Banyak orang lain di gym mulai membicarakan bahkan menjelek-jelekkan postur tubuh saya. Selesai berolahraga, biasanya saya selalu merasa nyeri.
Dengan tekad yang kuat untuk mendapatkan postur tubuh ideal, saya rajin berolahraga di gym. Saya menjalankan pola makan dan pola hidup sehat. Konsisten melakukan weight training dan berenang. Setelah berolahraga saya rutin melakukan streching.
Hingga saat ini, saya sudah rutin berolahraga di gym selama 5 tahun. Tetapi perlu waktu sekitar 3 tahun untuk menurunkan berat badan saya yang overweight sampai mendapatkan postur tubuh yang cukup ideal. Setelah 3 tahun itulah saya baru mengetahui nama penyakit yang ada pada tubuh saya. Namanya keren dan cukup menakutkan: Ankylosing Spondylitis.
Selama proses transformasi tersebut, saya selalu menanamkan pada diri saya “Winners never quit, Quitters never win.” Saya tidak akan pernah menyerah dengan apapun yang membatasi dan menghalangi saya dalam mengubah postur tubuh saya. Banyaknya ejekan yang ditujukan pada postur tubuh juga bukan merupakan alasan bagi saya untuk menyerah. Saya selalu menganggap bahwa semua ejekkan itu ibarat batu yang dilemparkan ke jalan tempat saya berpijak, dan saya tidak akan membiarkan batu itu menjadi tembok yang menutupi jalan melainkan sebagai batu pijakan dimana melalui ejekan-ejekan tersebut saya dapat menjadi orang yang lebih baik.
Proses untuk mengubah postur tubuh menjadi lebih baik memang susah dan cukup menyiksa. Tetapi tidak ada sukses tanpa kerja keras. Batu harus diasah untuk dapat menjadi berlian yang indah. Begitu juga tubuh kita.
Tuhan merancang sistem kehidupan ini untuk kebaikan kita. Dia tidak akan menuntun umat-Nya ke jurang, Dia akan selalu menuntun umat-Nya ke padang rumput yang hijau meskipun kadang harus melalui jalan yang sempit dan berliku.
Saya sempat down dalam hidup saya, mengubur dalam-dalam mimpi saya untuk membanggakan kedua orang tua saya dengan menjadi atlet basket. Saya sempat beranggapan bahwa penyakit ankylosing spondylitis ini adalah kutukan dalam hidup saya. Tetapi Tuhan memberikan jalan-Nya bagi saya untuk mewujudkan mimpi saya. Sejak saya memutuskan untuk tidak menyerah dan selalu berpikir positif, saya dapat melawan penyakit ini.


Kisah perjalanan saya dalam membentuk tubuh ideal pernah dimuat di website L-Men:
Prestasi saya sejauh ini adalah TOP 30 di audisi L-Men Of The Year 2012 Kota Surabaya, TOP 30 di audisi L-Men Of The Year 2012 Kota Makassar, dan Semifinalis Nasional Men’s Health Be Our Cover 2012. Saya juga berperan aktif menjadi ketua di L-Men Community Surabaya.
Satu hal yang dapat membuat saya dapat melawan penyakit ini dan menjadi manusia yang lebih baik adalah “Tidak pernah menyerah”. Jangan pernah menyerah dalam menghadapi penyakit ini, karena Tuhan tak pernah memberi cobaan melebihi kekuatan kita.


2 komentar:

Klo tulang belakang sy sdh lumayan cembung dan tdk cekung (bentuk normal) apakah bisa dikembalikan cekung kembali ya? Usia sy sdh 25 tahun. Sy sdh mengalami sejak usia 11 tahun hingga skrg. Apakah tulang belakang sy bisa cekung kembali (normal) dan tidak cembung lagi dgn resep anda? Tolong bantuannya. Terima kasih banyak. TUHAN memberkati.

Klo tulang belakang sy sdh lumayan cembung dan tdk cekung (bentuk normal) apakah bisa dikembalikan cekung kembali ya? Usia sy sdh 25 tahun. Sy sdh mengalami sejak usia 11 tahun hingga skrg. Apakah tulang belakang sy bisa cekung kembali (normal) dan tidak cembung lagi dgn resep anda? Tolong bantuannya. Terima kasih banyak. TUHAN memberkati.

Posting Komentar

STAND TALL Jilid -1

STAND TALL Jilid -1
Buku AS Bahasa Indonesia pertama di dunia. Untuk pemesanan buku POD-Print On Demand, silahkan hubungi penulis melalui menu header di sisi kanan atas situs ini.

PESAN BUKU STAND TALL ! JILID 1 DAN 2 DI TOKOPEDIA

STAND TALL Jilid- 2

STAND TALL Jilid- 2
Buku AS Bahasa Indonesia pertama di dunia. Untuk pemesanan buku POD-Print On Demand, silahkan hubungi penulis melalui menu header di sisi kanan atas situs ini.

BELI BUKU STAND TALL ! 1 SET DI BUKALAPAK.COM